Translate

Rabu, 31 Oktober 2012

ISTRI KEDUA DARI SUAMIKU

Aku tak tahu harus  berkata apa, saat suamiku mengatakan bahwa dia mencitai wanita lain selain aku…
Ku pandangi wajah manis anak-anakku yang tertidur lelap..
Ku pandangi wajah tak berdosa anak-anakku yang terbuai mimpi..
Ku kecup kening anak-anakku dalam dekapan erat tanganku..
Aku bingung…aku hampa..aku sedih dan aku menangis…tapi yang pasti aku sakit…
Ku coba koreksi setiap waktu yang ku jalani bersama suamiku..tapi selalu aku meyakini bahwa aku sudah dan telah melakukan hal yang terbaik untuk suamiku, anak-anakku, keluarga suamiku bahkan sahabat-sahabat suamiku…
Aku, mengatakan tak ada yang perlu disalahkan dari diriku, tapi mengapa suamiku berpaling pada wanita lain?….
Aku beranikan diri untuk bertanya padanya, apa yang membuat dia jatuh cinta pada wanita lain..dia dengan tegas mengatakan bahwa jatuh cinta pada wanita lain bukan berarti ada kekurangan pada diriku…dia meyakinkan diriku bahwa aku sudah banyak memberikan yang terbaik untuk hidupnya…semua membahagiakan suamiku tidak ada ruang kosong dalam hatinya, tidak ada kekurangan yang berarti dalam diriku…semua sempurna katanya…
Tapi aku heran, bila memang tak ada yang kurang dari diriku, mengapa dia harus berpaling dari diriku?…
Aku tak pernah mendapat jawaban sampai tanah itu menimbun erat semua misteri yang ku coba tanyakan pada almarhum suamiku…
Dia kini telah tiada tapi tetap misteri itu masih melekat di fikiranku…
Sampai suatu saat….
Seorang perempuan paruh baya sambil menggendong seorang bayi mungil dan lucu beserta 4 anak lainnya yang masih kecil-kecil, tiba-tiba dia memelukku dengan erat..sangaat eraat seakan tak ingin melepaskan pelukannya…
Aku bingung dan mencoba mengatasi kebingunganku dengan membalas pelukannya karena yang aku rasakan hanya rasa duka dan penyesalan yang mendalam dari tatapan mata dan getaran tangisnya….
Lalu dia bercerita :
“Mbak…aku adalah istri kedua dari suami mbak…” (dia memperkenalkan diri dan masih dalam tagisan serta saling berpelukan denganku).
Aku mencoba menahan amarahku, aku mencoba melepaskan pelukannya, aku ingin mengusir perempuan itu, aku kecewa tapi aku juga bersedih…..
Dia mencoba untuk menjelaskannya :
“Mbak..tolong dengar sedikit saja penjelasanku…” (hiba wanita perebut suamiku).
Kutahan semua amarahku walau bagaimanapun aku harus mendengarkan penjelasannya...
“Mbak..saya menyadari mbak marah pada saya yang telah berani mengganggu kenyamanan rumah tangga mbak dan suami..tapi percayalah suami mbak orang yang sangat baik …(aku agak menggeram karena berani sekali perempuan ini menilai suamiku didepanku, tapi kembali aku bersabar untuk mendengarkannya)..
Dia melanjutkan ceritanya :
“Suami mbak adalah Pahlawan bagi kami..saya Rukiyah, janda anak 5, saya kenal suami mbak disaat saya akan melahirkan anak saya yang bayi ini...(sambil menunjukkan lewat tatap matanya dan dekapannya) di sebuah rumah sakit tapi pada saat itu saya benar-benar bingung karena saya tak memiliki uang serupiahpun dan rumah sakit itu tak mau menerima saya bila saya tidak memberi uang muka biaya rumah sakit..disaat saya kebingungan datang suami mbak dan dia bertanya pada saya apa yang terjadi, lalu saya menjelaskan semuanya…entah apa yang ada dibenak suami mbak. dia tiba-tiba mengeluarkan uang untuk membayar biaya rumah sakit…setelah kelahiran anak saya suami mbak terus membatu saya untuk merawat anak-anak saya yang ada di rumah kontrakan tanpa saya bekali apa-apa ternyata suami mbak mengurus semuanya dengan baik…sampai suami mbak menyewakan rumah yang layak huni untuk kami..lalu setelah saya pulang suami mbak mengatakan bahwa, anak-anak saya perlu kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, serta kasih sayang…dia mencoba menjelaskan bahwa dia bersedia menjadi bapak dari anak-anak saya tapi suami mbak tidak mau saat dia berkunjung ke rumah kami dan bertemu dengan saya dia harus merasa risi karena saya bukan muhrimnya..lalu dia memutuskan untuk menikahi saya…”
Masih terisak, lalu dia menjelaskan kembali ceritanya :
“Mbak…jangan salahkan suami mbak..dia tidak bersalah..kalau mau disalahkan tolong salahkan saya yang telah berani menerima pinangannya..percayalah…dia menikahi saya bukan karena mencintai saya tapi dia mencintai anak-anak saya..suami mbakpun belum pernah menyentuh saya karena saya masih dalam masa iddah…tolong maafkan suami mbak…tolong maafkan saya..apapun yang suami mbak beri pada kami, semoga itu menjadi amalan untuknya…”
Aku terhenyak…aku bingung mesti bilang apa…ternyata ini jawaban yang selalu ku tunggu yang selama ini menjadi misteri dari suamiku…
Maafkan aku suamiku aku telah berprasangka padamu…tidurlah dalam damai di pangkuan Illahi, biarlah cerita ini terkubur bersama ragamu dipembaringan terakhirmu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar