Translate

Kamis, 31 Januari 2013

Metamorfosis Dalam Kehidupanku



Namaku Titin Sulistiawati, aku lahir di Jakarta pada 6 Mei 1971, abahku almarhum (panggilan ku pada orang tua laki-laki) seorang ABRI-AD terakhir dengan pangkat Sersan Mayor dan emakku almarhumah (panggilanku pada orang tua yang perempuan) hanya eorang ibu rumah tangga yang mengasuh anak-anaknya.

Aku dua belas (12 orang) bersaudara, walau pun kami 12 orang bersaudara orang tua kami mendidik dengan pendidikan yang cukup. Dari 12 orang bersaudara, sembilan diantaranya Sarjana (S1 dan S2), satu orang D1, dan dua orang lainnya lulusan SMA. 

Kami senantiasa dididik oleh orang tua kami dengan penuh kasih sayang, disiplin dan penuh tanggung jawab, tentunya dengan bidang sosialpun banyak diarahkan oleh orang tua kami.

Aku sendiri anak kesembilan dari duabelas bersaudara, semenjak kecil aku bercita-cita menjadi seorang guru, dimulai pada kelas V SD aku  melihat tayangan dari TVRI (pada saat itu hanya ada satu siaran TV) yang menayangkan acara “Guru di SLB (Sekolah Luar Biasa)”, pada saat itu tayangan di TVRI mngenai acara tersebut mengupas tentang kegiatan seorang guru untuk Anak Cacat (Anak Berkebutuhan Khusus pada saat ini). Dalam tayangan tersebut anak cacat/anak berkebutuhan khusus dididik dengan penuh kasih sayang dan perhatian oleh sang guru, sehingga menimbulkan rasa empati pada diriku. Tayangan tersebut menginspirasi cita-citaku untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus.

Sampai dengan saat SMP, aku dalam mencatat dalam buku minat dan bakat ku bahwa aku bercita-cita menjadi guru untuk anak berkebutuhan khusus dan itu mengundang pertanyaan dari guru SMP ku, mengapa aku bercita-cita menjadi guru untuk anak berkebutuhan khusus, aku menjelaskan bahwa aku ingin menjadi guru anak berkebutuhan khusus karena anak-anak cacatpun membutuhkan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang seperti anak lainnya.

Mendengar penjelasanku itu, guru ku di SMP menjelaskan bahwa aku harus rajin belajar dan ikhlas bila mendidik anak seperti itu.
Pendidikanku setelah lulus SMP dilanjutkan pada jenjang berikutnya yaitu SPG (Sekolah Pendidikan Guru) setara dengan SMA. Di SPG keinginanku menjadi guru anak berkebutuhan khusus semakin tinggi dan banyak sekai pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan pada guruku mengenai apa defini, klasifikasi, karekteristik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus. Banyak sekali pertanyaanku yang sulit dijawab oleh beliau karena guru yang mengajarkan pelajaran BP/BK bukan dari Pendidikan Luar Biasa. Akhirnya beliau mengarahkanku selepas aku dari SPG baiknya aku melanjutkan ke Perguruan tinggi dengan jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa).

Tahun pertama mengikuti SIPENMARU (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), aku gagal tapi aku terus belajar dari kegagalanku karena tahun depan aku masih mempunyai kesempatan untuk mengikuti ujian ke PTN yang ada jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa). Sambil mengisi waktu luangku yang tersisa 1 tahun aku mengikuti Bimbingan Belajar agar bisa masuk PTN yang diinginkan sambil nyambi mengajar di SD swasta menjadi guru honorer sekaligus kuliah di D1/PGTK Cut Muthia. Atas rahmat Allah dan usahaku untuk terus mencapai cita-citaku, akhirnya aku diterima di Universitas Negeri Jakarta/IKIP Jakarta jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa) pada tahun 1990. Empat tahun lebih aku berjuang agar kuliah ku cepat selesai, dengan uang bulanan yang diberikan oleh orang tua ku yang setiap bulannya kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhanku, aku tidak kecewa karena orang tuaku memang masih banyak dari saudara-saudaraku yang membutuhkan biaya yang sama sepertiku.  

Sambil kuliah aku bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dengan memberikan les pada anak-anak berkebutuhan khusus, berjualan bahkan menjual diktat dosen terbaikku (Bapak Totok Bintoro) tentunya atas izin beliau dan uangnya penuh beliau berikan untukku tanpa sepeserpun beliau memintanya, ini kata-kata beliau padaku “Tin, kamu pasti membutuhkan uang itu, gunakan uang itu untuk kamu”, sungguh uang itu memang bermanfaat untuk menyelesaikan kuliahku dengan demikian kebutuhanku dapat terpenuhi dengan hasil jerih payahku dan bantuan dosen-dosenku terutama bapak Totok Bintoro.

Pak Totok Bintoro, memahami saat aku dalam kedaan krisis keuangan dengan tiba-tiba dia sering memberiku uang atau mengajakku makan di KANSAS (Kantin Sastra di IKIP Jakarta). Tak lepas juga dengan empat sahabatku yang sangat baik hati juga sangat sering membantu keuanganku disaat aku kesulitan, adalah Nani Triani, S.Pd., M.Psi. (Pengawas SLB Provinsi Jawa Barat) dia adalah sosok sahabat panutanku cerdas, sederhana, baik hati, tidak sombong, peramah, sopan dan yang pasti baik hatinya. Setiap aku kesulitan keuanganpun beliau selalu paham padaku dan yang pasti selalu memberikan dorongan dan bantuan pada saat masa perkuliahanku. Begitupun dengan Mustafeng, M.Pd. (Guru di SLBN Cileunyi dan suami dari Nani Triani), Ana Fatwiati, Kommaruzaman merekalah sosok yang berpengaruh saat masa-masa kuliahku.
 Aku dan Sahabatku

Pada tahun 1995, akhirnya aku lulus dan diwisuda dan pada saat diwisuda aku telah menikah dan telah hamil enam bulan.

                                                                  Sahabat-sahabatku


Setelah melahirkan aku mengajar di sekolah umum tidak di SLB (Sekolah Luar Biasa) karena pada saat itu SLB belum begitu banyak sehingga aku sulit menemukan SLB yang dekat dengan tempat tinggalku tapi itu semua tidak menyurutkanku untuk tetap bercita-cita mendidik anak-anak berkebutuhan khusus.

Tahun berganti, aku hijrah dari Jakarta ke daerah Parungpanjang kabupaten Bogor pada tahun 2001, mengikuti tugas suamiku yang pada saat itu menjadi PNS dan yang di tempatkan di daerah tersebut. Di Parungpanjang ini belum ada sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pada tahun 2002 dengan modal menjual perhiasan lamaran suamiku dulu akhirnya aku membuat tempat terapi untuk anak autis, setahun berlalu kebutuhan akan sekolah untuk anak-anak terapiku semakin mendesak dan akhirnya aku membuat SLB (Sekolah Luar Biasa) dengan modal meminjam pada Bank Jawa Barat-Banten sebagai modal membuat sekolah, tetapi karena kebutuhan terus mendesak akhirnya kamipun menjual satu-satunya rumah kami (hadiah dari bapak presiden Soeharto pada tahun 1997, sebagai tanda jasa kepadaku guru honorer) yang di Jakarta untuk modal memperluas bangunan sekolah yang kami dirikan (aku dan suami).

                                                               Pernikahanku


Perkembangan jumlah murid cukup signifikan terjadi kenaikan tapi ternyata dari siswa-siswi yang bersekolah di tempat kami, sebagian besar terdiri dari anak-anak dari golongan kurang mampu secara ekonomi. Dengan demikian menggugah aku untuk membuat sekolah gratis untuk anak berkebutuhan khusus.
Perjalananku dalam mendirikan sekolah SLB ini bukan tanpa rintangan, saat itu sekolah yang aku dirikan masih mengontrak karena kami kesulitan dana untuk membayar uang kontrakan yang sudah jatuh tempo, kami diminta untuk keluar dari Ruko yang kami sewa dan pemilik memberikan waktu hanya satu minggu untuk membereskan semua peralatan kami. Sungguh pengalaman yang mengharu biru. Aku dan suami bekerja keras untuk mendapatkan pinjaman. Tapi karena keterbatasan kami, kami belum mendapatkan pinjaman. Tetapi Allah berkata lain, Allah memberi kemudahan pada kami dengan melalui jalan yang tidak kami duga, kami mendapatkan bantuan sebesar Rp 100.000.000,- atas rekomendasi dari bapak Dedy Kustawan, M.Pd yang pada saat itu pengawas di SLB Ayahbunda dan akhirnya uang tersebut kami langsung gunakan untuk mendirikan bangunan yang saat ini kami tempati.

 Perjuangan Mendapatkan Gedung untuk SLB Ayahbunda

Kesulitan masih didepan mata kami, karena jumlah murid yang banyak otomatis kebutuhan akan gurupun banyak tetapi kemampuan kami dalam memberikan uang honor pada guru-guru kami kurang memadai, tapi kembali Allah Maha Pengasih. Suamiku dengan ikhlas memberikan sisa uang gajinya untuk membayarkan uang honor guru di sekolah kami.

Sudah menjadi kebiasan sekolah kami dalam satu sekali minimal kami mengadakan penjaringan maksudnya adalah kami datang ke beberapa tempat di sekitar Kecamatan Parungpanjang untuk menjaring data banyaknya anak berkebutuhan khusus di Parungpanjang, agar kami bisa memberikan penjelasan pada orang tua, masyarakat ataupun pemerintahan di lingkungan kecamatan Parungpanjang tentang keberadaan anak berkebutuhan khusus agar dapat hak yang sama dalam segala hal terutama pendidikan seperti anak lainnya.
Pekerjaan dan perjuangan yang keras dalam menjalaninya tapi aku, suami dan rekan-rekan guru di SLB Ayahbunda tetap berusaha mensosialisasikan pada masyarakat. Bukan tidak ada hambatan saat kami mengadakan penjaringan dan sosialisasi tapi banyak hambatannya selain dana yang kurang memadai seringkali langkah kami surut karena orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak menerima kami. Memang bukan hal yang mudah untuk bisa diterima tetapi dengan ketekunan dan kesabaran akhirnya saat ini masyarakat Parungpanjang sudah banyak memahami tentang manfaat pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. 


Buat kami hambatan bukan menghambat atau terhambat tapi “hambatan” adalah strategi pencapaian untuk mewujudkan cita-cita, harapan, mimpi-mimpi bahkan ide yang “berseliweran” dibenakku.
Tidak sampai disini pekerjaan kami PR kami tentang bagaimana “Memberikan Pendidikan dan Layanan Khusus” adalah pekerjaan tersendiri yang membutuhkan waktu, tenaga, fikiran, keuangan, keikhlasan dan tentunya kesabaran. Aku dan rekan-rekanku di SLB Ayahbunda belajar terus untuk terus meningkatkan pelayanan kami maupun pengetahuan untuk meningkatkan pelayanan untuk anak berkebutuhan khusus.
Dana yang tidak mencukupi menjadi kendala utama kami dalam memberikan pelayanan pada anak berkebutuhan khusus di sekolah yang saat ini ku pimpin. Dengan jumlah siswa pada tahun 2012 ini sebanyak 84 siswa adalah pekerjaan selanjutnya karena aku harus menambah tenaga pengajar tapi bila tenaga pengajar kami tambah otomatis berhubungan dengan honor yang harus kami siapkan.
                                                          Anak-anak didikku


Liku-liku perjalanan kami masih mengalir deras seperti arusnya aliran sungai saat musim penghujan tiba. Liku-liku adalah warna dalam kehdupan yang semarak dalam menjalani dan menapaki perjalananku membesarkan SLB Ayahbunda. Arus deras adalah rasa yang menggugah jiwa untuk terus bertahan menghalau semua penghalang atau hambatan, tidak ada yang sulit bagi kami selama kami memiliki keyakinan yang luas dan kuat bahwa kami ada pada jalan dan langkah yang benar.

Terjatuhpun sudah berulang kali aku “nikmati”, terjerat dengan hutang-hutang dan hutang yang ku lakukan untuk membayar operasional sekolah pun aku lakukan. Bahkan cemooh yang menyakitkan pun sering aku dengar, bahkan telunjuk menghujam hatiku pu sering aku dapat.

Seseorang pernah mengatakan padaku, “kalau memang belum kaya, kenapa mesti membiayai orang-orang miskin untuk sekolah GRATIS kalau terus harus berhutang”. Dan yang aku sendiri tak habis fikir, aku tak pernah sakit hati dengan kata-kata itu. Aku hanya berkeyakinan bahwa aku pasti mampu melunasi semua hutang-hutangku itu. Allah Maha Pemberi, Alhamdulillah dengan keyakinanku dan tekad yang kuat sedikit demi sedikit, tahap demi tahap akhirnya hutangku telah banyak yang terlunasi walapun masih ada hutang yang tersisa tapi aku yakin Allah Maha kaya dengan perjuangan yang keras aku yakin PASTI dapat menyelesaikan semua hutang-hutangku.

Uang sertifikasi aku dan suamiku, sebagian kami gunakan untuk membayar hutang-hutang kami, walaupun ada yang mengatakan bahwa aku bisa memiliki mobil mewah dari uang jerih payahku dan suami tapi untuk apa sebuah mobil mewah bila aku masih menemukan anak-anak terlantar dan anak-anak berkebutuhan khusus belum terlayani dengan baik?

Buatku kemewahan adalah prestise dunia yang tak akan abadi tapi yang ku kejar adalah prestise dari Allah yang sudah banyak memberi kenkmatan pada kita. Untuk apa kenikmatan itu kita nikmati sendiri bila ada disekitar kita masih membutuhkan uluran tangan kita? Begitupun dengan kalung, cincin dan gelang yang pernah ku miliki sampai 100 gram lalu ku jual untuk membesarkan sekolah Ayahbunda, lebih bermanfaat dari pada ku kenakan atau ku simpan hanya menjadi bahan perhiasan tubuh sementara ada anak-anak khusus yang membutuhkan sekolah khusus yang terlayani dengan baik.

Pendidkan S2 pun pernah aku “nikmati” di PKh Pasca Sarjana UPI pada tahun 2008, tapi melanjutkan kuliah S2 adalah dilema panjang buatku. Antara dua pilihan, bila aku lanjutkan S2 ku maka keuangan operasional sekolah akan terganggu karena masih bergantung pada keuangan aku dan suamimu akhirnya aku memilih untuk meninggalkan perkuliahan agar uang deposito untuk kuliah S2 aku gunakan untuk membiayai operasional sekolahku. 

Aku memang tak memiliki mobil mewah sebagai kendaranku, aku pun tak memiliki perhiasan emas sebagai penghias tubuhku, akupun tak bisa menyandang gelar S2ku, aku pun tak memiliki lagi deposito yang dulu aku banggakan tapi aku bahagia dengan anak-anak khusus di sekolah khusus yang aku kelola jadi untuk apa semua kenikmatan dunia itu bila ada dan  masih banyak orang-orang disekitar kita sulit untuk medapatkan pelayanan dan pendidikan khusus?

Aku bahagia dengan keluargaku yang ikhlas dan terus mendorong perjuanganku, aku bahagia dengan guru-guru Ayahbunda yang ikhlas mendampingiku, aku bahagia dengan orang tua dengan anak-anak khusus didikanku yang dapat mengenyam pendidikan di Ayahbunda, aku bahagia dunia dan akhiratku.

Catatan :
Tulisan ini didedikasikan untuk orang-orang yang telah banyak membantu perjuanganku. Terimakasih kepada :
1.     Terima kasihku kepada abah dan emak almarhum, dan saudara-saudaraku yang telah mempercayakan kepadaku mengenyam Pendidikan Luar Biasa walau awalnya mula sangat “bingung” dengan pilihan pendidikanku.
2.     Terimakasihku untuk suamiku (Dedi Rahmat Hidayat), anak-anakku Adinda Fauziah Juliana, Fauzan Lazuardi dan Citra Fauza Ditheea kalian yang telah memberi dorongan kepadaku.
3.     Bapak Dedy Kustawan, M.Pd. yang telah memberikan peluang dan dorongan kepadaku untuk terus berkarya di dunia Pendidikan Luar Biasa.
4.     Bapak Totok Bintoro (dosenku di IKIP Jakarta)
5.     Nani Triani, S.Pd.,M.Psi., Mustafeng, M.Pd., Ana Fatwiyati, S.Pd., Kommaruzaman, S.Pd. terima kasih sudah memberi warna dalam kehidupanku.
6.     Ibu Neneng Nurwiati, S.Pd.,M.M. (Kepala SLBN Cibinong) yang tak pernah bosan membantuku materi dan dorongan serta kekuatan.
7.     Bapak Drs. Asep Ading SH., M.M. (Pengawas SLB provinsi Jawa Barat) yang senantiasa mengarahkanku.
8.     Ibu Nunung Djumarningsih, S.Pd. M.M (Kepala SLB Tunas Kasih I), tak bosan memberi dorongan dan arahan serta bantuan.
9.     Guru-guruku di Yayasan Ayahbunda tercinta tanpa kalian aku bkan apa-apa dan siapa-siapa.
10.  Para Donatur ataupun bantuan dari APBD dan APBN yang telah ikut serta membesarkan SLB Ayahbunda.
Para sahabat semua yang tak akan bisa ku lupakan yang telah banyak membantu secara materi dan semangat untuk lebih maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar